
Sumber: Radar Sukabumi
SUKABUMI — Di sebuah gang kecil di Sukabumi, matahari siang menyorot tajam ke deretan tampah berisi opak singkong yang dijemur. Aroma khas singkong Manggu yang manis dan legit menyeruak, bercampur dengan riuh suara pekerja yang sibuk membalik opak agar matang merata. Di halaman rumah sederhana itu, lahirlah sebuah kisah besar: Yammy Babeh, industri rumahan yang kini menembus pasar internasional.
Ade Sulistiowati (48) masih ingat betul masa-masa sulit pada 2016. Suaminya, Sahroni (58), mengalami kebangkrutan. Dari keterpurukan itu, mereka memutuskan untuk mencoba usaha kecil dengan modal hanya Rp 50.000. “Awalnya sehari cuma bisa produksi 10 kilogram. Hari ini, kami sudah mencapai 140 kilogram,” kenang Ade dengan senyum penuh rasa syukur.
Rumah produksi Yammy Babeh bukanlah pabrik besar dengan mesin modern. Di sana, suasana kekeluargaan terasa kental. Dua puluh pegawai, dibantu 25 siswa SMK Hasinah, bekerja bergantian menjemur, memanggang, dan mengemas opak. Para siswa belajar langsung dari praktik industri, sementara warga sekitar mendapat tambahan penghasilan.
“Kami ingin semua orang di sekitar ikut merasakan manfaatnya,” ujar Ade sambil mengawasi proses pengemasan.
Menembus Pasar Global

Perjalanan menuju pasar internasional dimulai pada 2018. Berkat keikutsertaan dalam program inkubasi dan pameran Trade Expo Indonesia, Ade berhasil menemukan pembeli pertama. Sejak itu, kontainer demi kontainer berisi opak singkong berangkat ke berbagai negara: Brunei Darussalam, Kanada, Republik Dominika, Australia, Singapura, Hong Kong, dan Malaysia. Nilai satu kontainer ekspor mencapai Rp 228 juta. Kini, target mereka lebih ambisius: menembus lima benua, termasuk Korea Selatan yang sedang dalam proses.
Meski sukses, jalan yang ditempuh tidak selalu mulus. Ade pernah merugi Rp 15 juta akibat penipuan mesin packing. Tantangan lain adalah keterbatasan rumah produksi dan ketergantungan pada sinar matahari untuk menjemur opak. Namun, ia tetap optimistis. “Singkong Manggu di Sukabumi itu berlimpah. Rasanya manis, pulen legit. Itu yang membuat opak kami berbeda,” jelasnya sambil menunjukkan bahan baku yang baru datang dari petani lokal.

Keberhasilan Yammy Babeh mendapat sambutan hangat dari Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki. Dalam sebuah acara di Gedung Juang, ia menegaskan bahwa capaian ini menjadi bukti nyata potensi UMKM lokal. “Insyaallah Sukabumi bisa jadi role model peningkatan usaha, dari ultra mikro ke mikro, dan dari mikro ke kecil,” katanya.
Tak hanya pemerintah daerah, Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga hadir sebagai mitra strategis. Zul Hendra, Pemimpin Cabang BRI Sukabumi, menekankan pentingnya program Kumitra yang menyambungkan usaha mikro dengan rantai pasok besar. “Mau produksi sebanyak apapun, kalau tidak ada kepastian pembeli, tidak akan jadi penjualan,” tegasnya. Program ini memberi jaminan pendampingan, pelatihan, dan kepastian pasar bagi UMKM.
Kini, Ade dan Sahroni menatap masa depan dengan penuh keyakinan. Dari halaman rumah sederhana di Sukabumi, mereka membuktikan bahwa cita rasa lokal bisa menjadi kebanggaan global. Opak singkong Yammy Babeh bukan sekadar makanan ringan, melainkan simbol ketekunan, kolaborasi, dan harapan. “Target kami ekspor ke lima benua. Dari Sukabumi, kami ingin dunia tahu bahwa singkong Manggu bisa jadi ikon rasa Indonesia,” tutup Ade dengan mata berbinar.(hnd)
The post Dari Gang Sempit Sukabumi ke Pasar Dunia: Kisah Opak Singkong Yammy Babeh appeared first on Radar Sukabumi.












