Kuliner

Galendo, Camilan Legendaris Pajampangan yang Kian Menghilang

×

Galendo, Camilan Legendaris Pajampangan yang Kian Menghilang

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – Di balik harum kelapa dan dapur tradisional masyarakat Pajampangan, tersimpan satu camilan khas yang kini mulai jarang terdengar namanya: galendo, atau oleh warga setempat disebut “galeno”. Dulu, makanan sederhana ini begitu akrab di meja keluarga. Kini, keberadaannya perlahan memudar.

Mak Asih (61), warga Kecamatan Ciracap, masih mengingat betul masa ketika galendo mudah ditemukan. Menurutnya, camilan ini bukan sekadar makanan, tapi bagian dari tradisi panjang pengolahan kelapa di kampung-kampung.

“Dulu mah gampang, hampir tiap dapur ada. Sekarang sudah jarang, paling kalau ada yang pesan saja,” ujarnya kepada Sukabumiku.id, Sabtu (25/4/2026).

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sukabumi Sabtu 25 April 2026: Hujan Ringan, Sejumlah Wilayah Masih Berawan

Galendo sendiri lahir dari proses panjang pembuatan minyak kelapa tradisional, atau yang dikenal warga Sunda dengan istilah ngeleutik. Dari proses ini, dihasilkan ampas kelapa yang kemudian diolah kembali menjadi berbagai makanan, salah satunya galendo.

Berbeda dengan dage yang diolah dengan cara dibumbui dan dipepes, galendo dimasak berjam-jam hingga kering dan berubah warna menjadi cokelat pekat. Prosesnya tak sebentar dimulai dari memarut kelapa tua, memeras santan, hingga merebusnya di atas tungku kayu sampai minyak terpisah dan menyisakan endapan padat.

“Prosesnya lama, harus sabar. Dari situ nanti jadi galendo, dipres supaya padat dan minyaknya keluar,” jelasnya.

Baca Juga: Dari Sukabumi ke Jawa–Bali, CAMESTAY Tebar Energi Lewat “TITIK Tour 2026”

Hasil akhirnya adalah camilan bertekstur padat dengan rasa gurih dan sentuhan manis alami dari kelapa. Sederhana, tapi punya cita rasa yang khas. Paling nikmat disantap bersama teh hangat di sore hari.

“Enak, gurih, ada manisnya. Cocok sama teh panas,” tambah Maryam, warga lainnya.

Namun, seiring perubahan zaman, tradisi membuat minyak kelapa secara manual mulai ditinggalkan. Dampaknya, galendo pun ikut tersisih. Kini, camilan khas ini lebih sering menjadi cerita lama ketimbang sajian sehari-hari.

Jika tak ada upaya pelestarian, bukan tidak mungkin galendo hanya akan dikenang sebagai bagian dari sejarah kuliner Pajampangan yang pernah ada, namun perlahan hilang ditelan zaman.

The post Galendo, Camilan Legendaris Pajampangan yang Kian Menghilang first appeared on Sukabumi Ku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *