Berita

Dari Satu Mesin ke Empat Cabang: Kisah Kanaya Laundry

13
×

Dari Satu Mesin ke Empat Cabang: Kisah Kanaya Laundry

Sebarkan artikel ini


Sumber: Radar Sukabumi

SUKABUMI – Di Kampung Salawi Tiga, RT 20 RW 05 Desa Warnasari, Kecamatan Sukabumi, deru mesin cuci dan aroma sabun menjadi bagian dari keseharian. Sejumlah pegawai sibuk mencuci, mengeringkan, dan merapikan pakaian pelanggan. Inilah Kanaya Laundry, usaha milik Tia Rustinah (39) yang kini berkembang pesat dengan beberapa cabang.

Berawal dari satu titik usaha, Kanaya Laundry kini memiliki cabang di Pondok Leungsir (2023), Cibaraja (2024), dan Sagaranten (2025). Dengan lima pegawai yang bekerja penuh semangat, usaha ini mampu meraih omzet hingga Rp33 juta per bulan. “Awalnya saya ragu, karena di sini banyak laundry. Tapi ternyata usaha ini bisa ramai. Alhamdulillah, sekarang sudah punya cabang,” kata Tia.

Sistem pengelolaan usaha yang diterapkan Tia cukup unik. Ia menggunakan sistem persentase untuk gaji pegawai. “Makin banyak kerjaan, makin besar gajinya. Jadi semua termotivasi,” jelasnya. Harga laundry pun bervariasi, mulai Rp7.000 hingga Rp9.000 per kilogram, dengan layanan kilat sehari Rp16.000 per kilogram. Ada juga layanan cuci karpet per meter, yang semakin memperluas pasar.

Untuk menjaga kejujuran dan kualitas layanan, Tia memasang CCTV di setiap cabang. “Kalau ada kecurangan, langsung diberhentikan. Tidak ada kesempatan kedua,” tegasnya. Semua pengeluaran, mulai dari sabun hingga plastik, dicatat dengan rapi. Sementara biaya kontrak ruko cabang rata-rata Rp15 juta per tahun.

Bagi Tia, menjadi pengusaha laundry bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memberi peluang bagi orang lain. “Paling enak jadi pengusaha itu pikirannya terbuka. Kita bisa berkembang bersama,” ujarnya.

Mantri BRI Unit Sukaraja Mariz Muslim, menilai usaha Tia sebagai bukti nyata bahwa perempuan desa mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal.

“Bu Tia adalah contoh bagaimana keberanian membuka usaha bisa berbuah manis. Dari satu cabang kini berkembang menjadi beberapa cabang, dengan omzet puluhan juta per bulan. Ini membuktikan bahwa usaha laundry, yang terlihat sederhana, bisa menjadi sumber penghidupan yang besar,” ujarnya.

Menurutnya, usaha laundry memiliki potensi besar karena kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. “Setiap pakaian yang dicuci di Kanaya Laundry bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga simbol bagaimana usaha kecil bisa menjawab kebutuhan masyarakat modern. Kami di BRI bangga bisa menjadi mitra dalam perjalanan ini,” tegasnya.

Mariz berharap kisah Tia menjadi inspirasi bagi perempuan lain di desa. “Kami ingin lebih banyak perempuan yang berani memulai usaha. Karena dari keberanian itu lahir kemandirian, dan dari kemandirian lahir kesejahteraan,” tutupnya.(*)

The post Dari Satu Mesin ke Empat Cabang: Kisah Kanaya Laundry appeared first on Radar Sukabumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *